Minggu, 21 November 2010

Nyontek Dapaat Hadiah

Oleh : Amrulloh

Sekitar dua minggu lalu saya bertemu dengan teman lama yang sekarang sudah menjadi guru disalah satu sekolah kejuran di jombang. pertemuan itu tepatnya dikantin kampus, kebetulan saat itu lagi ada acara  OSPEK, ...itung-itung nostalgia..... lantas dia bercerita tentang penemuannya. tentang metode menyontek dalam pembelajan matematika, wah seru itu, kelihatannya,,,pikirku begitu., obrolan pun semakin lengkap ketika beberapa teman alumni pun ikut nongkrong sambil ngobrol ngalor ngidul.. ..

setelah cukup puas tanya kabar dan segalanya, kita lanjutkan bahas tentang pernyataan teman saya tadi, dia menjelaskan tentang asal muasal metode itu ia temukan, dia bilang siswa yang diajar kerap kali setiap dikasih pekerjaan ( tugas ) jawabnnya selalu seragam....alias nyontek, ,,,,dengan begitu nilainya pun dapat diprediksi hampir 100% sama dalam satu kelas..tentu, menurut dia itu bukan hal yang memuaskan..dia pun berusaha untuk memberikan motivasi dan arahan agar siswanya tidak mencontek dalam mengerjakan tugas yang ia berikan, tetapi itu tidak membuat perilaku mereka berubah.

walhasil, dia lantas menemukan inspirasi kenapa tidak dimanfatkan aja kebiasaan mereka menjadi sesuatu yang berarti, karena dalam salah satu metode mengajar kan untuk membentuk kelompok, nah ini dia tampah disuruh mereka kan sudah membuat kelompok dengan sendirinya.,dia pun lantas melakukan eksperimen, dengan memberikan kebebasan siswanya untuk mencontek tapi mencontek, dan mengubah model penilaian, yang dulunya secara teknis habis dikerjakan kemudian buku dikumpulkan keguru dan guru memberi nilai, kini dirubah tidak usah dikumpulkan...tetapi semua siswa harus siap ketika ada perintah untuk mengerjakan didepan,...nah disinilah kemudian siswa diminta mempertanggung jawabkan pekerjaannya,,,,mampukah dia untuk menjelaskan apa yang telah ia kerjakan..!

dari situ, kemudian ada perubahan perilaku yang dilakuakn oleh siswa, pertama : mereka tidak lagi mencontoh buta, tetapi dia juga terlibat untuk berdiskusi dengan yang mereka contoh...hingga, kemudian posisi mencontoh disini seakan-akan berubah menjadi pola diskusi yang itu tanpa sadar kita paksakan untuk berdiskusi..

sambil menyeruput kopi yang sudah kita pesan, teman yang satunya lagi membenarjkan realita yang terjadi sekarang ini,siswa kecenderungannya kurang minat untuk belajar matematika, hal tersebut dikarenakan dalam pikirannya sudah tertancap bahwa matematika itu sulit, terus disamping itu mereka tak punya butuh waktu untuk mendapatkan bimbingan dalam penyelesaian setiap soal matematika, karena tidak mungkin guru akan memberikan arahan satu per satu pada siswa. akibatnya nyontek dan nyontek,.,.itu menjadi kebiasaan, tetapi disini teman saya berbeda dalam menyikapi dia kemudian menerapkan model pemberian hadiah bagi yang bisa mengerjakan soal...dia coba berulangkali tetapi tak ada satu pun yang berminat....

akhirnya, aku berfikiran untuk menggabungkan keduanya, pertama  biarkan mereka tetap menyontek asalkan dapat menjelasakan kepada teman-temannya jika dia kebagian mengerjakn soal tersebut, karena apa dengan dia berani mengerjakan dan menjelaskan hasil pekerjaannya didepan kelas, ada dua hal positif yang didapat a : motivasi siswa itu semakin bertambah disebabkan dia mampu untuk menyelesaiakan soal, walau dalam tahap awal itu pekerjaan temannya, kedua : memberikan pengalaman bagi siswa2 yang selama ini tidak pernah mendapatkan kesempatan mengerjakan didepan, kini dia mempunyai kesempatan yang sama, mungkin selama ini hanya didominasi anak2 pinter yang mengerjakan ke depan. kedua : memberikan penghargaan yang bisa didapatkan siswa berupa bintang, yang nantinya bintang tersebut.. dikumpulkan selama satu semester dan ditotal siapa yang mendapatkan bintang paling banyak dia yang berhak mendapoat hadiah utama.

alhamdulillah, setelah selang beberap waktu lalu teman saya bercerita.,..sungguh kini kelasku jauh lebih kondusif dan dipenuhi siswa-siswa yang penuh semangat untuk mengerjakan tugas-tugas yang dia berikan..

Jombang, 10 10 10

Dari Pakan Ayam Jadi Modal Untuk Swasembada

 Oleh : Amrulloh

       Di salah satu desa dikabupaten jombang, ada kebisaan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Kebisaannya ini berangkat dari komunitas ibu-ibu “yasinan” yang dimotori oleh seorang kiai kampung di desa itu. Yah..kebiasaan mereka adalah menaruh beras satu jumputan tanggan ( maaf : tidak lebih dari beras yang mereka kasih untuk memberi makan ayam), yang mereka taruh di bekas gelas minuman mineral kemudian diletakkan di depan rumah  mereka masing-masing. Setiap sore seorang santri dari pak kiai mengambil beras-beras tersebut dan terkumpul kira-kira 5 kg setiap harinya. Beras-beras tersebut kemdian dibeli pak kiai untuk dibuat makanan santrinya.
       Uang yang terkumpul dari penjualan beras tersebut dikelola menjadi modal usaha, diantaranya usaha jual beli padi dari masyarakat sekitar yang memang rata-rata pencahariannya petani, jadi tidak terlalu sulit untuk dapat mendapatkan padi pada waktu panen. Hasil usaha ini pun dapat meningkatkan modal yang ada. Pengurus pun kemudian terus ber inovasi untuk memutar modal yang ada hingga mempunyai omset yang besar dengan tanpa meminta masyarakat untuk memberikan berasnya.
       Dengan modal yang lumayan, pengurus akhirnya memutuskan untuk menghantikan penarikan beras dari masyarakat dan mengandalkan modal yang ada, yakni, dengan menciptakan koperasi dengan usaha simpan pinjam, koperasi ini berjalan dengan dasar saling percaya walaupun tidak ada badan hukumnya. Seluruh anggota organisasi yasinan secara otomatis menjadi anggota koperasi. Pada awal pembukaannya, memang jauh dari idealnya koperasi semua anggota yang ada diwajibkan untuk menghutang dengan jumlah rata-rata tiap orang pada saat itu Rp 50.000 , sistem pengembaliannya tiap bulan 50.000 dengan menambahkan uang kas sebesar 1000 rupiah, uang 1000 rupiah yang terkumpul menjadi tambahan modal hingga mampu menambah jumlah pinjaman masing-masing anggota pada satu tahun mendatang.
      Setiap akhir tahun, tepatnya pada saat akan lebaran, biasanya diadakan tasyakuran bersama dengan agenda pembagian bingkisan serta laporan dari pengurus mengenai kondisi keuangan yang ada.bingkisannya pada tahun-tahun awal masih berupa beras 3 kg untuk tiap-tiap anggota lama kelamaan maningkat hingga memberikan bingkisan berupa mukenah untuk seluruh masyarakat yang ada didesa itu. Dan yang menarik lagi hasil dari usaha tersebut juga dibbuat untuk santunan masyarakat yang sedang sakit dan meninggal dunia.
       Sepenggal cerita dan realita diatas, betapa semangat orang desa untuk berswasembada ( Meminjam istilah di flim punk in love ) swasembada berarti memenuhi kebutuhan sendiri dari diri sendiri, semangat untuk mengumpulkan modal tercermin dari kesetiaan mereka untuk metashorrufkan sebagian beras yang mereka miliki, kalau dihitung-hitung tidak lebih dari seperti apa yang mereka kasih pada ayam. Tapi ternyata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit menjadi kenyataan. Berangkat dari sejumput beras kini menjadi aset yang luar biasa hingga mampu meberikan bantuan sosial kesesama masyarakat yang membutuhkan.
       Walaupun, dengan sumber daya yang bisa dikatakan minim, dimana rata-rata mereka yang menjadi pengurus tidak lebih dari lulusan sekolah dasar,tetapi kejujuran dan keulatan mampu menjadi penopang kegiatan ini berjalan hingga bertahun-tahun, suasana demikian mungkin agak kontras dengan kondisi yang banyak kita temukan sekarang, dengan gelontoran uang dari pemerintah yang begitu besar dan ditanganin oleh orang-orang yang sumber daya manusia tidak diaragukan lagi, malah ujung-ujungnya tidak ada hasil dan uangnya sirna.
       Patut menjadikan inspirasi bagi kita dari apa yang orang-orang desa tersebut lakukan, pertama : semangat untuk maju, kedua : semangat untuk berbagi, ketiga : Semangat untuk ber inovasi . wal hasil ketiga semangat itu bisa kita terapkan dimana posisi kita berada.

Jombang, 23 Oktober 2010

Bakol Kopi Itu Ternyata Mahasiswa

Oleh : Amrulloh   
    
      Di salah satu sudut alun-alun jombang, tampak seorang pemuda yang sedang sibuk melayani pembeli yang sudah berjubel untuk mendapatkan kenikmatan racikan kopinya, tempat ini memang menjadi jujukan para anak-anak muda untuk hanya  sekedar dapat meninikmati suasana malam jantung kota jombang dengan secangkir kopi hingga diskusi ringan ala pejabat parodi, tak ayal banyak ide-ide ngalor ngidul yang menjadi topik bahasan didalamnya. mulai dari agama hingga persoalan-persoalan ekonomi bangsa ini, tentu tidak sehebat seperti diskusi-diskusi beneran kayak di televisi-televisi itu.
     Malam itu, aku dapat sms dari temen yang bisa nongkrong di kedai itu, kedai tanpa atap hanya ada alas dan meja-meja kecil tempat menaruh secangkir kopi dan pembatas belakang sebagai tanda batasan wilayah dari kedainya, maklum di alun-alun juga banyak yang menyediakan jasa seperti itu, walaupun kadang banyak juga yang menyediakan menu-menu tak sekedar secangkir kopi tapi juga (  maaf perempuan bispak ) he..he belum di riset sich cuman tembung jare ( jarene kere ).
    Kebetulan malam itu teman-teman lagi mau bincang masalah mau buka bisnis tambal ban on line, wah gila juga idenya pikirku saat mendengar lontaran dari mereka..dia menjelaskan lebih lanjut kenapa harus tambal ban?, pertama : dari sisi kemanusian jelas sangat membantu menyelesaikan persolan yang dihadapi oleh para pengendara sepeda motor, maklum pada saat itu menjelang hari raya.. jadi bisa dibayangkan betapa susahnya orang yang kebetulan sepedanya mengalami kebocoran. kedua : dari sisi ekonomi, ini peluang usaha yang sangat prospektif melihat sekarang kebanyakan tukang tambal ban masih konfensional, dengan sistem on line maka menjadi gebrakan sejarah dalam dunia pertambalan ban.
     Semakin membikin gila orang ini, pikirku ! lantas aku mulai ikut nimbrung didalamnya, pertanyaan mendasar aku lontarkan...bagaimana sistemnya kerjanya? Sambil menghisab rokok surya 12 dia mulai memaparkan,begini brow...zaman kita sudah pada tahap transisi ke zaman teknologi, lihat saja hampir setiap orang mempunyai hand phone yang dulu dianggap barang mewah tapi sekarang mulai anak sd hingga bapaknya yang tukang becak tentengannya hand phone, sehingga dari situ bisa dibayangkan betapa orang akan bisa terkoneksi dengan siapapun dan dimanapun tanpa terbatas jarak dan waktu, itu jika Hp nya batreinya ada dan pulsanya juga ada...sambil ketawa.!nah berangkat dari situ kita bisa manfaatkan untuk mengkoneksikan mereka dengan usaha kita, yaitu tambal bal on-line...betapa dahsyatnya !emm sebentar bos, lah gimana proses nambalnya, mana bisa di bikin on-line? Kayak orang beli pulsa aja! Ndak mungkin..!
     Ha..ha,, sambil terkeke ia melanjutkan seruputan kopi nya,, begini brow, sistem marketing yang akan kita bangun nanti sederhana saja,, pertama: kita tempel beberapa brosur dan spanduk di tempat-tempat strategis tentang usaha kita sekaligus no telp., masuk gak?kedua ; kita siapkan peralatan tambal ban yang multi fungsi, dengan sedikit modifikasi pada sistem pemanas, kompresor kita pilih yang mini, dari situ kita rubah energinya menjadi energi panas dan energi angin, energi panas berfungsi untuk mengkoneksikan dengan alat yang digunakan untuk membakar perekat ban, sedangkan energi angin unuk memompa angin ke dalam ban..! kompresor kita modifikasi sedimikian hingga menjadi mudah untuk dibawah kemana-mana.ketiga : kita akan buat kantor pusat sebagai sarana penerima pesan dari custemer dan kantor-kantor cabang sebagai penerima informasi dari kantor pusat, mereka diletakkan di tempat-tempat strategis di kota jombang...masuk gak??? Haha...huah...prikitu...
     Aku semakin dibuat penasaran oleh orang ini, ...lama kami berdiskusi hingga sampai pada ujung malam yang dingin, serta penjual disekelilin sudah pada bubar., aku pun mengajukan pertanyaan terakhir,, lha modalnya dari mana ?...ha..ha....ha...hutang dar iBANK , pemerintah kan sudah janji menyipkan kredit mudah untuk rakyat seperti kita,,lewat program KUR, singkatane kredit usaha rakyat. ..gampangkan? wah gak patek yakin aku mas, dulu aku pernah datang kesalah satu Bank  di kota jombang, dengan semangtnya aku mau bikin usaha toko sepatu waktu itu, eh ternyata direkturnya bilang,,jaminannya apa mas..! lha, aku ya gak punya jaminan mas, makanya ini mau bikin usaha biar dapat beli rumah nanti bisa dibuat jaminan...wah tidak bisa mas! Jawab pak direktur. Makanya aku tidak begitu yakin untuk usaha lusaha awal memakai dana pinjaman dari bank, apalagi tidak punya jaminan tidak bakalan bisa jalan. Kecuali kalau dananya itu Swasembada ( meminjam istilah dari flim punk in love ), kita penuhi sendiri dulu kebutuhannya, entah lewat pinajm ortu, calon mertua, atau jual Hp sekalian....!

eits...ternyata yang banyak ide tadi selain penjual kopi ternyata juga mahasiswa...pantesan!!!!!
*penulis adalah pegiat sastra sawahan.
Malam senin,
Jombang,24 Oktober 2010